Monday, June 1, 2009

ALL ABOUT CDI SEPEDA MOTOR


ALL ABOUT CDI SEPEDA MOTOR
I. Sekilas tentang CDI Digital
Perkembangan teknologi mesin sepeda motor secara mekanikal telah mengalami kemajuan sangat pesat tetapi tidak sebanding dengan perkembangan electronic yang mengendalikan mesin. Dengan konsep Digital semua perangkat yang dikendalikan akan lebih presisi.
Oleh sebab itu, kami telah melakukan penelitian selama bertahun-tahun dan mengembangkan sistem pengapian CDI (Capacitance Discharge Ignition) berbasis teknologi Digital.
Digital CDI yang kami kembangkan bekerjasama dengan perusahaan terbesar di dunia untuk microcontroller (microchip komputer) yaitu Phillips Semiconductor.
Digital CDI adalah sistem pengapian CDI yang dikendalikan oleh microcomputer agar Ignition Timing (waktu pengapian) yang dihasilkan sangat presisi dan stabil sampai RPM tinggi. Akibatnya pembakaran lebih sempurna dan hemat bahan bakar, serta tenaga yang dihasilkan akan sangat stabil dan besar mulai dari putaran rendah sampai putaran tinggi. Dengan Digital CDI, emisi yang dihasilkan juga sangat rendah itu sebabnya kami juga menyebut
teknologi Digital CDI kami dengan GREEN CDI (CDI Hijau
= ramah lingkungan).
Digital CDI Hyper Band merupakan pengembangan pertama yang berbasis digital dengan kurva pengapian terprogram untuk menghasilkan powerband yang sangat lebar hingga mencapai lebih dari 20.000 rpm tanpa adanya batasan (limiter).
Digital CDI Dual Band adalah CDI Digital pengembangan kedua yang kami ciptakan untuk keperluan Standard, Tune Up, Racing dan kompetisi. Dengan teknologi Dual Band, kami menggabungkan seluruh keperluan pemakaian sepeda motor yaitu :
“Standard & Tune Up, Tune Up & Racing dan Racing & Competition”.
CDI Dual Band terdiri dari dua kurva pengapian yang telah diprogram secara permanen dan disesuaikan dengan kebutuhan di atas. Kurva-kurva pengapian tersebut dibuat berdasarkan hasil penelitian dan percobaan yang dilakukan secara sistematis melalui team Balap “ Bintang Racing Team (BRT)”.

CDI Dual Band juga menganut teknologi Hyper Band (tanpa limiter) dan dilengkapi ALVP (Automatic Low Voltage Protection) untuk menghindari kerusakan fatal akibat tegangan supply yang minim (accu tekor).
CDI Dual Band sangat bermanfaat untuk para pencinta motor yang disesuaikan dengan kebutuhan.
Secara garis besar CDI Dual Band terdiri atas beberapa aplikasi, sbb :
1. Standard dan Tune Up (ST).
2. Tune Up dan Racing (SR).
3. Racing dan Competition (RC).
Dalam aplikasi Racing dan Competition CDI Dual Band
dapat dipadukan dengan Digital Smart Box.

II. Keuntungan CDI BRT
Keuntungan menggunakan CDI BRT adalah sbb :
1. Tenaga kuda (Horse Power) akan meningkat hingga 20%. *
2. Meningkatkan respon dan akselerasi. **
3. Power Band bertambah lebar hingga 2000 RPM.
4. Hemat pemakaian Baterai/AKI hingga 30%.
5. Hemat bahan bakar hingga 29. 0%.***

Catatan :
*) Diuji pada motor Honda Karisma 125 Standard pada tgl
10 Feb 2005 menggunakan DYNOJET 250i
(Dynamometer) pada temperature 34ºC; kelembaban
34%; 994.5mBar; tenaga kuda 7.96dk pada 9000 Rpm menjadi 8.66 dk.
**) Diuji pada motor Yamaha RX KING ; pada tgl 10 Feb
2005 menggunakan DYNOJET 250i; akselerasi 0 – 100 km/jam 8 detik menjadi 6 detik pada temperature 35ºC; kelembaban 34%; tekanan 994.4 mBar.
***) Uji coba dilakukan oleh Tabloid Motor Plus edisi No.348/VI sabtu 29 Oktober 2005, hal 7; pada motor Suzuki Shogun 125; penghematan hingga 29.14%

III. Jaminan Kualitas
Semua produk CDI BRT telah 100% melalui UJI KETAHANAN dengan metoda Charging selama 8 jam pada
6000 RPM yang ekivalen dengan pemakaian 5 tahun pada kondisi normal.

VI. Petunjuk Pemasangan
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat pemasangan Digital DC CDI sbb:
a. Periksa dan pastikan tegangan Accu 12,5Volt.
b. Pastikan pemasangan kabel sesuai dengan warna yang sama bila menggunakan kabel adapter sebab jika tidak sesuai maka akan menyebabkan kerusakan/ konsleting.
c. Pastikan komponen penunjang seperti COIL, KIPROK
(Rectifier Regulator) adalah Original Standar.
d. Pastikan Panjang Pick-up Pulser (Tonjolan Sensor) pada magnet (Fly Wheel) adalah standard sebab CDI telah diprogram dengan kondisi tonjolan Sensor standard.

Gambar 2 :
Fly Wheel (Magneto)


Gambar 3 :
Pulse Sensor

VII. Daftar Panjang Pick Up Pulser (Tonjolan Sensor)

No. MODEL TYPE PANJANG TONJOLAN SENSOR TYPE
SINYAL PULSER SISTEM PENGAPIAN
1. HONDA Supra/ Legenda 12 ± 1 mm Single - Positif AC
Kirana 12 ± 1 mm Single - Positif DC
Mega Pro 12 ± 1 mm Single - Positif DC
Tiger 2000 12 ± 1 mm Single - Positif AC
Karisma 38 ± 1 mm Single - Positif DC
Sonic 125 / CBR 150 38 ± 1 mm Single - Negatif DC
2. YAMAHA Vega-R / F1ZR 57.5 ± 1 mm Double - Positif AC
Jupiter Z/ Nouvo/ Mio 57.5 ± 1 mm Double - Positif DC
RX King Single - Positif AC
3. SUZUKI Shogun 110 14 ± 1 mm Single - Positif DC
Smash 110 14 ± 1 mm Double - Positif DC
Shogun 125 30 ± 1 mm Single - Positif DC
Satria 120 R 30 ± 1 mm Double - Positif DC
Satria 150F 39 ± 1 mm Double - Positif DC

Gambar 5 : Ignition Coil

Gambar 4 :
Mengukur Pick Up Pulser

VIII. Pin Koneksi

1 2 3

6 5 4

1 2 3

6 5 4

Yamaha Jupiter Z/ Mio
1. Coil (Orange)
2. Massa (Hitam)
3. 12 Volt (Coklat)
4. Massa (Merah)
5. Pulser (Putih)

Yamaha Neuvo/ New Vega
1. Coil (Orange)
2. Massa (Hitam)
3. 12 Volt (Coklat)
4. Massa (Merah)
5. Pulser (Putih)
6. Nol

1 2 3

6 5 4

1 2 3

6 5 4

Suzuki satria 150F
1. Coil (Putih/Biru)
2. Massa (Hitam/Putih)
3. Pulser (Biru/Kuning)
4. Massa (Orange)
5. Tacho Meter
6. 12 Volt (Hijau/Putih)

Suzuki Smash 110
1. Coil
2. Massa
3. Pulser
4. Massa
5. Nol
6. 12 Volt

1 2 1 2

4 3 4 3

5 6 5 6

Suzuki Shogun 110
1. Massa
2. Pulser
3. Coil
4. Nol
5. 12Volt
6. Nol

Suzuki Shogun 125
1. Massa
2. Pulser
3. Coil
4. Nol
5. 12Volt
6. Nol

1 2 1 2

4 3 4 3

5 6 5 6

Honda Tiger
1. Massa
2. Pulser
3. Coil
4. Nol
5. 12Volt
6. Nol

Honda Mega Pro
1. Massa
2. Pulser
3. Coil
4. Nol
5. 12Volt
6. Nol

1 2
3
4 5


1 2
3
4 5

Supra Series
1. Massa
2. Pulser
3. Kunci Kontak
4. Spul Input
5. Koil
CBR 150
1. 12 Volt
2. Pulser
3. Tachometer
4. Massa
5. Koil

1 2
3
4


1 2

3 4

Karisma 125
1. Koil
2. Massa
3. 12 Volt
4. Pulser


Sonic 125/ KIRANA
1. 12 Volt
2. Pulser
3. Massa
4. Koil

IX. Kabel Koneksi

Yamaha F1ZR 1. Orange
2. Hitam
= Coil
= Massa

3. Hitam/Merah = Input Spul

4. Hitam/Putih
5. Hijau/putih
6. Putih/Biru
7. Putih/Merah

= Kunci Kontak
= Massa
= Pulser
= Massa

Yamaha RX KING

1. Orange
2. Hitam

= Coil
= Massa

3. Hitam/Merah = Kunci Kontak

4. Hitam/Putih
5. Putih/Hijau

= Input Spul
= Pulser

X. Penyebab kegagalan aplikasi
Ada beberapa hal yang menyebabkan kegagalan dalam aplikasi CDI sbb :
a. Kesalahan yang disebabkan penyambungan warna kabel.(ikuti petunjuk pada poin no.VIII pin koneksi dan poin no.IX kabel koneksi).
b. Kiprok Cas (Rectifier Regulator) tidak orisinil.
c. Aki tidak terpasang dengan benar atau ACCU rusak.
d. Tegangan ACCU atau tegangan supply CDI tidak pada tegangan kerja yaitu : 11 s/d 18 volt; hal ini disebabkan karena ACCU telah rusak atau Kiprok Cas rusak atau tidak orisinil.
e. Memakai Coil yang tidak sesuai dengan spesifikasi CDI, contoh pemakaian Coil Mobil.
f. Dengan sengaja membuat konslet output CDI ke massa
(biasanya memercikan api keluaran CDI ke massa). g. Kabel massa ada yang kendur.
h. Pemasangan pemutus arus (kunci kontak) tidak pada koneksi yang benar. Perhatikan diagram pemasangan kunci kontak yang benar berikut ini :

Pemasangan Kunci Kontak yang BENAR ( ) pada DC

Kunci Kontak
Kiprok CDI DC

Spul
Pengisian


AKI (12V)

KOIL


BUSI

Pulser

Pemasangan Kunci Kontak yang SALAH ( X ) pada DC

Kunci Kontak
Kiprok CDI DC

KOIL
Spul AKI (12V) BUSI Pengisian

Pulser

Pemasangan Kunci Kontak yang BENAR pada system AC

CDI DC


Spul
Pengisian


Kunci Kontak

KOIL


BUSI

Pulser


XI. Tehnik Modifikasi Pengapian
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat modifikasi pemakaian CDI sbb :
1. Pin koneksi harus benar atau koneksi kabel sesuai warna dan fungsinya.
2. Panjang Pick-Up pulser (tonjolan sensor) harus disesuaikan dengan karakter CDI yang akan dipergunakan.
3. Perhatikan tehnik contoh berikut ini :


Contoh modifikasi :
1. Motor Shogun 110 ingin mengadopsi sistem pengapian
CDI Karisma, maka yang harus diubah sbb :
a. Pin koneksi harus disesuaikan. (lihat no. XXX)
b. Panjang Pick-Up sensor shogun 110 standarnya 14mm, sedangkan karisma Pick-Up sensornya 38mm, oleh sebab itu Pick-Up sensor harus ditambah panjang
24mm (38mm-14mm=24mm); bagian yang ditambah panjang adalah bagian depan atau kiri .Lihat ilustrasi
gambar berikut ini:

14 mm Orisinil Shogun


Tambahan (24mm)

14 mm

Diubah menjadi 38mm


Arah putaran mesin


2. Motor Jupiter Z ingin mengadopsi sistim pengapian
CDI karisma, maka yang harus diubah sbb :
a. Pin koneksi harus disesuaiakan (lihat no. XXX).
b. Panjang Pick-Up sensor Jupiter Z orisinil 57.5mm, sedangkan karisma Pick-Up sensornya 38mm, maka oleh sebab itu Pick-Up sensor harus dipotong 19.5mm (57.5mm-38mm=19.5mm) pada bagian depan atau kiri. Lihat ilustrasi gambar berikut ini :

57.5 mm Orisinil Jupiter Z


dipotong 38 mm Diubah menjadi 38mm

Arah putaran mesin

XII. CDI DIGITAL DC DUAL BAND
XII.1. Konfigurasi CDI Dual Band



Sensor Dual Band

Konektor CDI




Gambar 6 : CDI DUAL BAND

Indikator Dual Band
Indikator ACCU


CDI Dual Band memiliki dua kurva pengapian dimana antara kurva 1 dan kurva 2 memilki perbedaan 2°. Kurva Dual Band dapat diaktifkan melalui Sensor Dual Band menggunakan saklar On/Off.
Ada beberapa saklar penggerak yang dapat digunakan
seperti contoh gambar di bawah ini :











Gambar 7 :
CDI Dual Band diaktifkan dengan saklar On/Off.

Gambar 7 di atas adalah instalasi CDI Dual Band yang diaktifkan menggunakan saklar Engine Cut Off. Berikut gambar contoh saklar yang dapat digunakan untuk mengaktifkan Dual Band :













Gambar 8 :
Saklar Rem Depan

Gambar 9 :
Saklar Engine Cut Off











Gambar 10 :
Saklar Toggle

Gambar 11 :
Saklar Rem Depan





For : DUAL BAND CDI - BRT

Gambar 12 :
Digital Smart Box



XII.2. Digital Smart Box
Digital Smart Box (DSB) adalah kotak pintar yang dikendalikan oleh mikro


For : DUAL BAND CDI - BRT

Komputer yang diprogram untuk mengaktifkan dual band secara otomatis.

Cara kerja DSB dihubungkan dengan Kopling, saklar On/Off dan Switch Gear Transmisi . DSB akan mengolah data dan menaikkan kurva pengapian sebesar 2° pada saat Engine Break dan Shift Up (Pindah Gigi) selama 0.5 detik.


DSB bekerja guna meningkatkan torsi dan putaran mesin/RPM. DSB digunakan hanya untuk keperluan Road Race dan Drag Race.
XII.3. Kinerja Dual Band
CDI Dual Band merupakan sebuah revolusi pengapian yang sangat modern dan tepat guna dalam berbagai macam aplikasi baik untuk motor 2 dan 4 langkah (stroke).
Dual Band berarti Dua Kurva, dimana kurva tersebut telah diprogram dan disesuaikan dengan kebutuhan. Kedua kurva pengapian tersebut memiliki perbedaan satu sama lain
sebesar 2°. Perhatikan ilustrasi berikut ini :


BTDC

27

15

BTDC
29


15





Gambar 13 : Kurva I

RPM


Gambar 14 : Kurva II

RPM

Kedua kurva pengapian tersebut tetap menganut tanpa limiter
(batasan RPM).


XII.4. Aplikasi CDI Dual Band.
Dari hasil penelitian kami, bahwa aplikasi CDI Dual Band
dapat dibagi beberapa penerapan, sbb :


1. Standard dan Tune Up (ST).
Kurva I : Standard
Kurva Standard sama dengan standard original tetapi tanpa limiter, dirancang agar emisi gas buang tetap lulus dalam uji Euro 2, kami menyebutnya Green CDI (ramah lingkungan).

Kurva II : Tune Up
Kurva Tune Up dipakai untuk meningkatkan tenaga dan akselerasi.

Rekomendasi Aplikasi :
- Pemakaian : Standard dan Semi Tune Up
- Bahan Bakar : Premium dan Pertamax.
- Kondisi mesin : Standard / Semi Tune Up.
- Kompresi Ratio : 9 :1 s/d 10.5:1
- Cam Shaft : Standard/Modifikasi.


- Knalpot : Standard/ Racing
- Spuyer : Standard/Penyesuaian.
- Contoh Label :






MODEL : DUAL BAND
USED : STANDARD / TUNE UP


TYPE P/N
S/N
DATE


: SHOGUN 125
: 201-20D-SG30/33-00R
: 060700001
: 01/07/2006 TMN ST




Powered by : PHILIPS Semiconductor



Keuntungan :
a. Bahan bakar hemat hingga 29%. b. Tenaga meningkat hingga 10%. c. Torsi meningkat hingga 10%.


d. Akselerasi lebih cepat. e. Ramah Lingkungan.

2. Tune Up dan Racing (TS).
Kurva I : Tune Up
Kurva Tune Up dipakai untuk meningkatkan tenaga , torsi, akselerasi dan power band yang lebih luas.
Kurva II : Racing
Kurva Racing dipakai dalam penerapan racing modifikasi untuk performa tinggi.

Rekomendasi aplikasi :
- Pemakaian : Semi Tune Up dan Racing
- Bahan Bakar : Pertamax s/d Bensol
- Kondisi mesin : Semi Tune Up s/d Full modif.
- Kompresi Ratio : 10.5 s/d 13.8:1
- Knalpot : Standard/ Racing
- Spuyer : Penyesuaian
- Cam Shaft : Standard / Modifikasi
- Contoh Label :






MODEL : DUAL BAND
USED : TUNE UP/RACING


TYPE P/N S/N DATE

: SHOGUN 125
: 201-20D-SG33/35-00R
: 060700001
: 01/07/2006 TMN TR




Powered by : PHILIPS Semiconductor


3. Racing dan Kompetisi (RK) Kurva I : Racing
Kurva Racing dipakai dalam penerapan racing modifikasi untuk performa tinggi.
Kurva II : Kompetisi
Kurva Kompetisi dipakai untuk penerapan ekstrem dari modifikasi.


Rekomendasi aplikasi :
- Pemakaian : Full Racing / Drag Race
- Bahan Bakar : Bensol dan Racing Fuel.
- Kondisi mesin : Full Modifikasi.
- Kompresi Ratio : 12.3 s/d 16:1
- Knalpot : Racing
- Spuyer : Penyesuaian
- Cam Shaft : Modifikasi
- Contoh Label :





MODEL : DUAL BAND
USED : RACING/KOMPETISI

TYPE P/N S/N DATE

: KARISMA/WAVE 125
: 201-2KPH-K38/40-00R
: 060700001
: 01/07/2006 TMN RK




Powered by : PHILIPS Semiconductor


XII.5. Teknik Aplikasi CDI Dual Band
Dalam penerapannya CDI Digital Dual Band tergolong sangat unik dan istimewa karena dapat diaplikasikan dengan beberapa fungsi, sbb :
1. Sebagai Power Booster
Dalam penerapan sebagai power booster CDI Dual
Band dibantu dengan saklar pengaktif Dual Band.











Gambar 15 :
Saklar ON/ OFF

Gambar 16 :
Saklar Toggle


Cara kerja :
a. Soket Dual band di hubungkan dengan saklar On/Off seperti gambar 7.
b. Dual band akan aktif jika putaran mesin melebihi 3000
RPM.
c. Jika saklar diaktifkan pada putaran awal maka kurva pengapian sbb :


BTDC

Kurva II (Saklar ON)

Kurva I (Saklar OFF)




2000 3000 RPM
Gambar 17 : Kurva Pengapian Dual Band mode I

d. Jika saklar diaktifkan pada saat putaran menengah, untuk meningkatkan RPM pada putaran mesin, maka kurva pengapian sbb :

BTDC

Kurva II (Saklar ON)



Kurva I (Saklar OFF)


2000 3000 RPM
Gambar 18 : Kurva Pengapian Dual Band mode II

e. Jika saklar diaktifkan saat awal dan dimatikan pada saat putaran mesin di RPM menengah maka, kurva pengapian sbb :


BTDC Kurva II (Saklar ON)





Kurva I (Saklar OFF)


2000 3000 RPM

Gambar 19 : Kurva Pengapian Dual Band mode III



Pada aplikasi ini umumnya dipakai untuk keperluan mesin jenis 2 Langkah agar tidak terjadi Detonasi pada RPM tinggi.


2. Sebagai RPM Booster
Dalam penerapannya sebagai RPM Booster, CDI Dual Band dibantu dengan menggunakan saklar micro/micro switch yang biasa dipakai sebagai switch lampu rem depan, tetapi penerapannya diletakkan di handel kopling. Aplikasi ini sangat membantu pembalap pada saat memasuki tikungan dan Engine Break karena saat itu kopling ditekan dan kurva dual band akan aktif sehingga putaran mesin naik dan terjaga agar tidak turun. Kurva pengapian yang terjadi sbb :


BTDC

Kopling ditekan







Kopling dilepas


2000 3000


RPM


Gambar 20 : Kurva Pengapian sbg RPM Booster












Gambar 21 : Micro Switch Gambar 22 : Instalasi di
Handel Kopling

3. Sebagai Power dan RPM Booster
Pada aplikasinya dual band bisa digabung sebagai Power Booster dan RPM Booster dengan menggunakan saklar ON/OFF dan Micro Switch yang di hubungkan secara pararel. Kombinasi ini sangat baik karena RPM Booster digunakan saat memasuki tikungan dan engine break sedangan Power Booster digunakan pada saat track lurus. Berikut rangkaian instalasi kombinasi :




Ke Soket kabel


DUAL BAND CDI




Saklar ON/OFF


Saklar Micro/Micro swtich

Gambar 23 :
Instalasi Sebagai Power dan RPM Booster


4. Sebagai Smart Dual Band (Dual Band Cerdas)
Yang paling unik dalam penerapan CDI Dual band adalah system pengapian cerdas. Dalam aplikasinya CDI harus dikombinasikan dengan Digital SMART BOX (Kotak Cerdas). Digital Smart Box adalah kotak cerdas yang dikendalikan oleh micro computer (Micro Chip) dan bekerja sebagai pengatur timing pengapian secara otomatis sesuai situasi yang tepat pada saat pembalap

memasuki tikungan, Engine Break, Top Speed dan pemindahan gigi.


Ke Soket kabel


DUAL BAND CDI




Orange






+ -
ACCU
12V

Digital
Smart BOX






Saklar ON/OFF



Micro switch

Gambar 24 :
Instalasi pemasangan Digital Smart Box

Switch
Transimisi


Cara kerja :
- Digital Smart BOX dihubungkan ke :
1. Saklar On/Off digunakan sebagai Power Booster.
2. Saklar Micro digunakan sebagai RPM Booster.
3. Switch Transmisi mesin sebagai RPM Booster, mengunakan kabel adapter.
4. Baterai/ ACCU 12Volt.
- Digital Smart Box akan mengatur kerja kurva CDI Dual
Band secara otomatis.
- Jika Saklar On/Off ditekan maka Smart BOX akan memilih kurva CDI Dual Band hanya sebagai Power Booster akan aktif. Ingat Saklar harus dimatikan, bila tidak maka CDI akan berada pada kurva II saja.
- Jika Saklar Micro ditekan maka Smart BOX akan memilih kurva CDI Dual band sebagai RPM Booster, biasa digunakan pada saat Engine Break.
- Jika dihubungkan dengan Transmisi, maka Smart BOX akan menjadi RPM Booster pada saat pemindahan gigi (Shift Up). Pada saat pemindahan gigi Smart Box akan mengaktifkan kurva II dalam waktu 0,5 detik.


Hal ini diterapkan utk membantu meningkatkan torsi dan menjaga RPM pada saat perpindahan gigi.
- Digital Smart Box sangat baik digunakan untuk keperluan balap.

XIII. Automatic Low Voltage Protection/ ALVP



Low Voltage Protection
AUTOMATIC


Automatic Low Voltage Protection merupakan salah satu keunggulan revisi terbaru dari CDI BRT, dimana ALVP berfungsi untuk memproteksi resiko kerusakan CDI yang disebabkan baterai/accu rusak atau tekor. ALVP akan berkerja jika tegangan kurang dari 11 Volt, sebagai indikasi maka CDI akan mengalami seperti ada batasan atau limiter. Perhatikan grafik ilustrasi berikut ini :


V Batere (Volt)
18
17
16 Tegangan Kerja Batere
15 yang direkomendasikan
12 s/d 18 Volt
14
13
12
11
10
9
8
7
6

3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
RPM x 1000

Gambar 25 :
Grafik karakteristik Automatic Low Voltage Protection


Catatan :
Gejala yang timbul bila ALVP bekerja maka akan timbul gejala limiter(brebet) dan menandakan bahwa ACCU sudah harus diganti atau di Cas.


XIV. CDI Master Chip



CDI Master Chip adalah CDI Modern berbasis teknologi Digital yang mengadopsi Hyperband atau tanpa batasan/limiter yang mampu berkerja sampai 20.000 RPM.

CDI Master Chip terdiri dari Master yaitu CDI dan Chip Map
adalah Kurva pengapian dikendalikan oleh Micro Computer.
CDI Master Chip wajib dimiliki oleh setiap Tuner/Mekanik Balap, karena CDI ini dilengkapi 16 Chips Map yang terdiri dari 16 kurva pengapian yang berbeda. Kurva pengapian tersebut terdiri dari 27° sampai 42° BTDC (Before Top Dead Center = Sebelum Titik Mati Atas/ Sebelum TMA), dimana
setiap chip berbeda 1°.


Oleh sebab itu


para mekanik balap pasti akan

menemukan setingan yang tepat dengan kondisi mesin yang telah dimodifikasi untuk menghasilkan power yang besar dan akselerasi yang cepat.


X.IV.1. Cara Membaca Chip Map




CHIP MAP

- P.I.D = Program Indentifikasi Data.
K15SR4 merupakan kode program

P.I.D

: K15SR4

produksi.

Pick Up : 38mm
BTDC : 15° - 27°

- Pick Up = Panjang Tonjolan Pulser.
38mm menunjukkan panjang tonjolan pulser yang harus dipakai.


- BTDC = Derajat Timing Kurva Pengapian sebelum TMA. Saat Idle/Langsam : 15° Sebelum TMA.
Saat Advance : 27° Sebelum TMA.


Catatan :

- Chip Map tersedia 16 pcs yaitu 15°-27° s/d 15°-42°.


XIV.2. Aplikasi CDI Master Chip
Cdi Master Chip merupakan CDI universal yang dapat diaplikasikan pada semua motor 4 langkah.


Beberapa hal yang diperhatikan :
1. Pin Koneksi harus benar.
2. Panjang Pick Up/Tonjolan pulser harus sesuai yang tertera di label Chip Map.
Dalam aplikasinya CDI Master Chip sangat bermanfaat untuk menyeting mesin dengan hasil maksimal dan sangat mudah digunakan karena cukup mengganti-ganti Chip Map yang sesuai dengan kondisi settingan mesin layaknya seperti ganti spuyer karburator.

XV. CDI Special Order
CDI Master Chip wajib dimiliki setiap tuner/mekanik sebagai Development Tools (Alat Riset dan Pengembangan), karena bila setting mesin telah cocok dengan Chip Map tertentu maka tuner dapat langsung order CDI sesuai program Chip Map yang dipesan dengan harga normal.
Cara memesan CDI Special Order
1. Tentukan model soket CDi yang diinginkan.
2. Sebutkan P.I.D, Panjang Pick Up dan BTDC.
3. Hubungi Customer Service BRT melalui telepon/SMS
di +62-852-1326-22-11.

3 comments:

genka said...

maaf mas kalo karisma pengen mengadopsi cdi shogun gmn ya caranya ? trim's

tri wardoyo said...

mas hudha kalau buat kawasaki blit joe R kalau CDInya diganti CDI shogun
125 bisa nggak, punya nggak gambar rangkaian elektronik CDI kawasaki blit...? makasih
ini alamat email saya ; sella.jihanwardoyo@yahoo.com
saya tunggu balasannya

tri wardoyo said...

Mas hudha saya mau tanya kalau CDI kawasaki blit diganti CDI shogun 125
bisa nggak...?, kalau mas hudha punya rangkaian CDI kawasaki blit minta dong kalau ada, saya pingin buat sendiri. makasih

rtikel-Artikel otomotif

Tujuan Perawatan Berkala
Sebuah kendaraan dikonstruksikan dari sejumlah besar part,
yang dapat aus, melemah atau berkarat sehingga menurunkan
performa, tergantung pada kondisi atau jangka waktu penggunaan.
Oleh karena itu, part-part tersebut memerlukan perawatan
berkala, kemudian penyetelan atau penggantian
guna memelihara performanya.
Dengan melaksanakan perawatan berkala, hal-hal berikut
dapat dicapai, sehingga meningkatkan kepercayaan dan
ketenangan pelanggan:
1. Masalah yang lebih besar dengan kendaraan yang mungkin
muncul di kemudian hari dapat dihindari.
2. Kendaraan dapat dipelihara dalam kondisi yang sesuai
dengan peraturan hukum yang berlaku.
3. Kendaraan menjadi lebih awet.
4. Pelanggan dapat menikmati pengendaraan yang
ekonomis dan aman.
Tujuan Perawatan Berkala
(1/3)
(2/3)
Jadual Perawatan
• Item-item perawatan berkala dan interval service ditulis
pada tabel jadual di buku Pedoman Pemilik, Pedoman
Pemilik Tambahan atau Warranty Booklet, dll.
• Jadual perawatan dirangkum berdasarkan faktor-faktor
ini: model, umur, negara tempat digunakan, atau bagaimana
menggunakan (kondisi) kendaraan.
T, R, I, A, L mewakili simbol-simbol pekerjaan perawatan.
T=Kencangkan ke momen spesifikasi
R=Ganti
I=Periksa atau ganti bila perlu
A=Periksa dan/atau setel bila perlu
L=Lumasi
Interval service
Interval service ditentukan berdasarkan jarak tempuh dan
jangka waktu yang telah dilampaui sejak service sebelumnya.
Sebagai contoh, bila jadual perawatan untuk part tertentu
adalah 40,000 km atau 24 bulan, maka perawatan jatuh
pada salah satu kondisi di atas. Oleh karena itu, kendaraan
perlu di service setelah :
Berkedara 40,000 km/12 bln. ( ) setelah service sebelumnya
atau pengendaraan 5,000km/24 bulan ( ) setelah service
sebelumnya.
Bila kendaraan digunakan pada kondisi berikut ini, maka
perlu dilakukan perawatan yang lebih sering:
1. Kondisi Jalan
Jalan yang kasar atau sangat berlumpur, jalan dimana
salju meleleh, jalan yang sangat berdebu.
2. Kondisi Pengendaraan
(1) Kendaraan digunakan untuk menarik gandengan, atau
menarik kendaraan kemah.
(2) Kendaraan yang digunakan untuk jarak pendek 8 km secara
berulang-ulang pada temperatur dibawah titik beku.
(3) Kendaraan patroli polisi, taxi atau kendaraan pengantar
dari rumah ke rumah, yang dibiarkan idling selama jangka
waktu lama atau yang menempuh jarak tambahan pada
kecepatan rendah.
(4) Kendaraan yang dikendarai lebih dari 2 jam pada kecepatan
tinggi (80% kecepatan menggunakan kecepatan maksimum
kendaraan)
Kendaraan yang dikendarai pada jalan kasar
Kendaraan yang dikendarai pada kecepatan tinggi
Kendaraan kemah